SAMARINDA – Sejarah Indonesia tidak dimulai dari kertas-kertas kolonial, melainkan dari deretan baris sanskerta di atas tiang batu (Yupa) di tanah Kutai. Menyadari posisi strategis tersebut, Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Mulawarman (UNMUL) mengambil peran aktif dalam mendukung pendaftaran Prasasti Yupa sebagai Memory of the World (MoW) UNESCO.
Dukungan ini ditegaskan dalam agenda sosialisasi yang berlangsung di Ruang Lecture Theatre, Gedung UNMUL HUB, baru-baru ini. Bagi sivitas akademika Pendidikan Sejarah, langkah ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan upaya "pulang ke rumah" untuk mengakui kembali bahwa fajar literasi Nusantara terbit dari Kalimantan Timur.
Lebih dari Sekadar Artefak
Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum FKIP UNMUL, Prof. Dr. H. Muhammad Nurhadi, M.Si., yang mewakili Dekan, menekankan bahwa Yupa adalah jangkar identitas.
"Prasasti Yupa bukan hanya simbol lokal, tetapi bukti awal peradaban tulis di Indonesia. Pengakuan UNESCO akan menjadi pengingat bagi kita—khususnya di lingkungan akademik—untuk tidak berhenti mewariskan pengetahuan ini kepada generasi penerus," tegas Prof. Nurhadi.
Bagi Prodi Pendidikan Sejarah, komitmen ini diterjemahkan ke dalam integrasi kurikulum dan penguatan riset. Tujuannya jelas: memastikan calon guru sejarah masa depan tidak hanya menghafal teks, tetapi mampu membedah nilai-nilai kosmopolitanisme Kutai Kuno yang sudah berinteraksi dengan dunia internasional sejak abad ke-4.
Melawan Amnesia Sejarah
Senada dengan hal tersebut, Staf Ahli Menteri Kebudayaan, Prof. Dr. Ismunandar, menyoroti urgensi program Memory of the World. Menurutnya, pengajuan ini adalah benteng agar masyarakat tidak mengalami "amnesia sejarah".
Kepala ANRI, Dr. Mego Pinandito, M.Eng., yang hadir secara virtual, juga menambahkan bahwa tata kelola pemerintahan yang tercermin pada Yupa bisa menjadi inspirasi pembangunan bangsa saat ini. Hal inilah yang menjadi "bahan bakar" bagi mahasiswa Pendidikan Sejarah UNMUL untuk terus menggali relevansi masa lalu dengan isu-isu kontemporer, termasuk dalam menyambut IKN.
Garda Terdepan Pelestarian
Kepala BPK Wilayah XIV, Lestari, S.Si., M.P., memuji kolaborasi akademisi dalam proses ini. Kehadiran dosen dan mahasiswa Pendidikan Sejarah dalam sosialisasi ini menjadi bukti bahwa kampus bukan menara gading.
Dengan dorongan kuat dari berbagai pihak, Prasasti Yupa kini menapak jalan menuju pengakuan dunia. Bagi Prodi Pendidikan Sejarah UNMUL, ini adalah panggilan tugas: memastikan bahwa ketika dunia mengakui Yupa, kita sebagai pemilik rumah adalah orang pertama yang paling memahami dan mencintai maknanya.
berita admin